Rabu, 25 November 2009

tips Mabrur347

Mabrur347 Tips Yang pertama di hari pertama

Hari ini adalah hari selasa tanggal 24 November, seperti biasa hari-hariku di awali dengan malasnya aku bangun pagi memenuhi panggilan tuhan untuk melaksanakan sholat shubuh. Setelah jarum jam mengarah pas jam 5 pagi, barulah aku membuka mata dan seraya berkata “duh masih gelap gulita gini, mana dingin lagi” tadinya aku ingin melanjutkan tidurku yang tadi nyenyak sekali tapi, ibuku membukakan pintu dan ternyata pagi sudah mengundang mentari untuk turut serta membangunkanku dan sekali lagi mengingatkanku bahwa waktu melaksanakan sholat shubuh hanya beberapa menit lagi.
Sholat shubuh telah selesai dilaksanakan tapi aku masih bingung untuk melakukan apa hari ini di rumah. Kalau di pesantren sudah pasti jam 6 pagi aku berangkat untuk mengaji, tapi jika sedang berada di rumah aku selalu berpikir terlebih dahulu tentang rencana apa yang akan ku perbuat. Sesaat setelah aku sedang asyik-asyiknya berpikir tentang rencanaku untuk menonton PERSIB di stadion Si Jalak Harupat nanti sore, kakakku Zam-zam memanggilku dan menyuruhku untuk mengedit teks khutbah ‘idul adha yang ia dapatkan dari internet untuk aku rapihkan. Awalnya malas sekali, tapi aku malu jika kakakku mengataiku orang yang mesantren tapi tidak berguna sedikitpun. Akhirnya tugas dari kakakku tersebut aku laksanakan meskipun ada sedikit kesulitan yang aku dapati tapi aku terus berusaha.
Meskipun aku hanya dapat mengetik dengan satu tangan saja, yakni dengan tangan kiri, tapi aku yakin meski tangan kiri selalu identik dengan hal-hal yang bernilai negatif, aku selalu percaya Allah lebih mengetahui apa yang aku lakukan terhadap apa-apa yang telah Allah berikan padaku.
Karena manusia itu tak selamanya akan memiliki apa yang ia miliki saat ini, maka dari itu manfaatkanlah segala sesuatu yang Allah telah berikan kepada kita, sebelum Allah mengambil segalanya. Jikalah Ada yang menjual waktu yang telah berlalu untuk diperbaiki, niscaya aku akan membeli waktu tersebut dengan segala yang aku miliki.

Mabrur347 Tips Yang Kedua di hari yang Kedua

Hari ini hari rabu tanggal 25 November seperti biasanya aku kembali terbangun pukul 5 pagi, tapi ada sesuatu yang berkesan pada hati ini, yaitu pada malam harinya aku tidak tidur di rumah melainkan tidur di mesjid, jadi pas aku bangun pukul 5 pagi orang-orang telah selesai melaksanakan sholat shubuh serta wiridan dan hendak melaksanakan pengajian Tafsir Jalallain yang merupakan salah satu tafsir Al-qur’an karangan Jalalluddin As Suyuti dan Jalalluddin Ar rumy. “A gugah!” begitulah suara yang kudengar dari bibir Agus yang merupakan salah satu murid ngajiku pada saat aku berada di rumah.
Awalnya aku sedikit acuh terhadap seruannya, tapi setelah aku teringat bahwa aku tidur di mesjid, seketika itu aku terperanjat dari tidurku yang teramat pulas bahkan alarm handphone pun tak berpengarih sama sekali ditelingaku.
Aku kemudian berlari menuju kamar mandi tanpa pikir panjang lagi karena orang-orang telah berkumpul tepat melingkari aku yang sedang tidur. Aku akhirnya pulang kerumah dengan ngos-ngosan, ibuku bertanya mengenai keadaanku yang seperti dikejar hansip karena maling mangga tetangga sebelah. Aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada ibuku, lantas ibu bertanya kepadaku “udah sholat shubuhnya?” kemudian aku jawab “belum Bu”. Ibu lantas menjibir telingaku hingga merah sambil berkata “tidur di mesjid saja masih kesiangan apalagi dirumah!”
Hari ini aku sangat malu, jengkel, dan lelah. Kenapa juga mata ini sulit membukakan matanya untuk beribadah di waktu shubuh ? Mengapa telinga ini juga tidak mendengar sedikitpun suara adzan yang menggema sangat kerasnya dimesjid?
Apakah Allah sudah tidak mempedulikanku lagi?
Apakah mata hatiku telah bua lagi mengeras bagai batu?

Astaghfirullahal’adzim dengan sendirinya aku ucapkan dari bibir yang sangat sedikit mengingat-Mu dengan memuji dan mensucikan-Nya.

Banyak dosa dapat berindikasi hati mengeras, buta, dan tak dihiraukan oleh Allah dengan teguran dan peringatan-Nya.
Banyak beristighfar dan meminta ma’af adalah sesuatu kebajikan yang tak ternilai harganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar