Senin, 30 November 2009

Gundah Di Hari 30-11-2009

Gundah Di Hari 30-11-2009

Hari ini adalah hari terakhir orang yang hendak melaksanakan ibadah qurban atau udhiyyah yang sering kita sebut sebagai hari tasyrik, tapi di pagi ini seperti biasa aku terbangun dimana mentari telah menyinari seluruh interior bumi.
Aku kembali bangun kesiangan dalam arti kesiangan untuk melaksanakan sholat shubuh. Aku sudah 3 hari berada di kobong, atau asrama pondok pesantren terhitung dari hari sabtu aku berada di kota sukabumi dimana pondok yang aku tempati berada. Tak seperti tahun sebelumnya, aku sekarang kembali ke pesantren satu hari setelah hari raya idul adha atau tanggal 11 dzulhijjah. Tak tahu mengapa tahun ini aku begitu merasakan kejenuhan selama berada dirumahku sendiri. Mungkin pada kali iini biasanya jika aku pulang kampung, aku selalu mengajar ngaji anak-anak santri yang mondok di pondok ayahku. Tapi sekarang mereka telah diberikan guru tetap, sehingga aku tak mengajar lagi. Meskipun sedikit merasa kehilangan, aku merasa bahwa aku sendiri belum mampu untuk memberikan pengajaran yang baik dan pengajaran yang mereka butuhkan. Seringkali mereka mengutarakan kenyamanan mereka selama berada dalam pengajaranku tapi, aku sadar akan kelemahanku dalam segi membaca kitab gundul (kitab yang tak berharkat). Dibanding dengan guru-guru senior lainnya, aku adalah yang paling lemah dari segi penguasaan materi pengajaran meskipun dalam penyampaian aku sudah tidak merasa kaku lagi karena telah terbiasa memberikan pengajaran sewaktu aku menjadi ketua sebuah organisasi kesenian di Tasikmalaya.
Hari itu, maksudku hari saat aku berada di rumah aku lebih sering bersikap tertutup dan dingin. Aku teringat kembali kepada pandangan teman-temanku mengenai aku selama mereka mengenalku. Hal negative yang perlu aku remove adalah sifat keras kepala, memaksakan kehendak sendiri, serta arogan. Aku sangat menyadari segala sifat negative yang kumiliki tersebut, karena itu, aku selama seminggu berada di rumah terus memikirkan bagaimana diriku dapat menghilangkan sifat-sifat negative tersebut kala aku bersosialisasi dengan mereka?
Kekuranganku yang lainnya adalah tak biasa memisahkan kepentingan pribadi dengan kepentingan umum saat aku mengajar. Dalam kelas pengajianku saja aku menyukai kepada salah satu muridku, sebut saja dia C. Aku masih saja mencintai dan menilai seseorang dari sesuatu yang tampak indah (material). Aku menyadari jika perhatianku sering kali berbeda kepada C daripada dengan anak-anak yang lainnya.


Jam 12 lebih menuju pukul 13.00 aku menelpon C untuk sekedar menanyakan kabar, paling-paling juga cuma 10 menitan. Tapi pada saat aku membuka percakapan dengan menanyakan kabarnya karena aku tahu jika dia sejak hari jum’at setelah penyembelihan hewan qurban merasa kurang enak badan, mungkin mual melihat daging kambing. Tapi dia lantas mengatakan bahwa dia akan meng-sms bapaknya, padahal kan bisa saja sms sambil menerima telpon!, sahutku dengan nada agak tinggi. Tapi tetap saja dia ingin segera mengakhiri pembicaraan yang baru berlangsung sekitar kurang dari 2 menit itu.
Yah dasar takdir, semua gak ada yang aku dapatkan dari apa yang aku inginkan,. Mungkin aku kurang bersyukur saja. Tapi aku terkadang bertanya dalam kalbuku sendiri, “Apakah dapat disebut cinta jika menggebu-gebu mendapatkannya dan menelantarkannya saat cinta itu telah didapatkan?” aduh pusing banget mikirin hal seperti itu, seperti gak ada kerjaan saja. Tapi emang mesti digimanain lagi? Toh rasa cinta itu terkadang menjadi spirit untuk hidup dan terkadang menjadi sebuah virus yang dapat membunuh seluruh umat manusia. Dengan cinta, seorang raja dapat menjadi hamba, seorang yang kaya raya dapat merelakan seluruh hartanya hingga ia jatuh miskin hanya gara-gara cintrong, orang pandai pun dapat terlihat bodoh manakala ia berjuang melakukan apapun untuk meraih apa yang ia yakini dari teoti cinta kuadrat, dan manusia rela mati demi mendapatkan cintanya.
Cerita pengorbanan untuk mendapatkan cinta memang sudah menjadi tradisi dari zaman nenek moyang kita dulu. Coba kita ingat kembali cerita Kakang Sangkuriang yang mengerahkan tenaganya dengan dibantu oleh para jin untuk membendung sungai citarum dan membuat kapal yang besar demi mendapatkan cinta Nyai Dewi Sumbi yang tak lain adalah ibunya sendiri, kemudian romeo yang rela bunuh diri untuk menemui Teteh Juliet yang telah mati, (emangnya kalo mati bakal ketemu lagi,,,..? dasar cerita yang aneh).
Tapi pengorbanan untuk mendapatkan cinta yang pernah aku lakukan adalah membuat syair-syair puisi untuk dikirimkan pada “Si Cayank” via surat maupun via sms. Yang lebih membuat aku tersenyum saat mengingatnya adalah saat aku menelfon “Si Cayang” dan menembaknya dengan menyanyikan sebuah lagu yang mengungkapkan isi hatiku. Untung saja gak ada yang nyawerin saat aku nyanyi, kalo ada bisa gawat tuh,. Managementku bisa protes jika mengetahui ada konser diluar kontrak,..!!! hee…. Gubrak!!!!!
Yang penting pengorbanan yang gak susah adalah pengorbanan menjadi kaum dhuafa yakni memelas belas kasihan agar mendapatkan cinta, meskipun hina tapi itu hemat biaya lho,..!!! selamat mencoba aja..
Up’s ko jadi malah promo cinta ya,,.. nanti aku malah saingan lagi ama yang REG-REG-an gitu,….. Cikiciew,….!!!
Nulis cerita kaya gini itu cape banget, tapi daripada kekesalan mabrur di ungkapin dengan hal-hal yang kagak bener lebih baik maen nyoba-nyoba kutak-ketik aja,. (bukan gutak-gitek! Heheheheheh……) kan kata Dosen mabrur Pak Drs. Mulyawan, bahwa untuk latihan menggemari menulis adalah menulis apapun yang sedang terjadi terhadap dirimu, meslipun tulisannya kagak nyambung sama sekali yang penting ada niat untuk mengekspresikan kondisi jiwa melalui tulisan. Kali aja kedepannya bisa menulis sesuatu yang berguna bagi halayak banyak.
Menulis bertemakan Cinta itu gak ada habisnya kalo dibuat syair, puisi, prosa, lagu, maupun sinetron. Yang jelas tema cinta akan terhenti dengan sendirinya kala di bumi tak ada lagi peradaban manusia. Dan akan berlanjut pada cinta yang kekal dan hakiki, saat kita memasuki kawasan “Dimensi Cinta Tuhan” yang kita belum pernah merasakannya kecuali jika kita sudah mati nanti.

Semoga gundah hatiku pada hari ini adalah gundahku yang selalu mencari celah untuk mendapatkan cintaMu, Wahai Tuhanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar