Inikah semayup senja dimusim gugur?
Dua bola mata ini , masih focus pada sekumpulan anak2 sekolah kira2 setingkat SMU di dalam bis Damri jurusan Cicaheum-LW. Panjang.
Selang beberapa menit mata ini terus memandang selagi menerawang dalam ingatan bawah sadar tentang apa yang sedang dilihat kedua mata ini. Aku teringat kembali dengan shohib-shohibku dipesantrenku yang ku gali ilmunya selama kurang lebih 1000 hari aku menghirup udara disana.
Bahrul Ulum KH.Busthomi adalah nama pondok pesantrennya, aku teringat ketika raga, hati, jiwa, dan seluruh anatomi kepribadianku berbaur dengan temperature yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Dag..dig…dug…!!! begitulah kira-kira suara dentuman jantungku di bilik sebelah kanan kurasakan dentumannya begitu kencang layaknya bom nuklir yang jatuh dikota Hirosima Jepang 1944 oleh America Serikat.Kenapa ini….? Sepertinya aku menjadi diri sosok yang lain, bukan diriku yang sebelumnya.
Kududuk dikursi panjang kurang lebih ukurannya tiga orang dewasa jika mendudukinya, sesosok wajah dengan penuh aura surga menyapaku dengan pandangan sayup sejuknya. Sepertinya beliau berbeda dengan orang-orang asing yang telah kulihat tadi.
Akhirnya perbincangan antara kedua orang tuaku yang selalu menyayangi dan menjagaku dengan penuh kasih sayang serta tulus ikhlas dalam mendidik dan menyiami aku layaknya tumbuhan yang baru menampakkan pucuknya, dengan seorang yang sejuk bila kupandang paras dan lekuk perilakunya yang lembut lagi halus. Ternyata ia adalah Pipimpinan Pondok Pesantren yang akan aku diami selama tiga tahun kedepan nanti.
Perbincangan selama kurun waktu serempat jam itu berakhir dengan mushofahah yang begitu akrab dan hangat kurasa.
Setelah kami menghadap Rabby yang telah memberikan nikmat akan indahnya menatap mahluk ciptaan-Nya, mengecap segala rasa yang Ia hiaskan sebagai mahkota
dunia. Alhamdulillahi robbil ‘alamin,kuucapkan kala waktu asar memandangku dengan sedikit malu-malu memancarkan meganya. Aku berpisah dari kedua mentari dan rembulanku, tetesan air mata tak terasa mengalir dengan derasnya dari muara ketabahanku, aku tak mampu membendung semua kesedihanku ditinggal kedua orang tua yang teramat aku cintai.
“Jaga diri baik-baik dan rajinlah mengaji” itulah kata-kata penunjuk arahku yang terakhir mereka katakan.
Aduh….!!! Kepalaku terbentur kaca bis, astagfirullahal’azim ternyata aku sudah setengah jam membuka album imajinasiku. Tak kulihat lagi anak-anak SMU yang sedang ramainya berceloteh, Alhamdulillah sampai juga di teminal LW. Panjang…….
Afwan jiddan k-lo intermezzonya kelewat panjang, ismi Ahmad Mabrur Nur Hakim bin Halim bin Sofyan bin Saca bin Barata. Nama qolam “aboey al-khauf”, kediamanku di jln terusan kopo no.492 A Kab. Bandung.
Yang selalu aku lakukan adalah merenungi kesalahan apa yang telah aku perbuat dalam satu hari, afwan jiddan aidhon jika aku sensitive dan selektif dalam mengenal kepribadian seseorang. Kamis, 31 Bulan Mei 1990 adalah awal peperanganku dengan iblis la’natullah ‘alaih dalam menegakkan keimanan dalam qalbu yang teramat lemah tanpa pertolongan-Nya.
Kenangan yang paling indah, pedih, peri, dan aku syukuri atas nikmat-Nya
Kala kalian para golongan pengibar bendera syahadatain menjadi Semayup Senja di Musim Gugur-ku
Pesanku jadilah semayup yang menyejukkan hati yang melihatnya, jadilah senja yang memberikan rasa teduh bagi para musafir yang berjalan ditengah teriknya sinar mentari untuk mencari ridho-Nya, jadilah dedaunan dan aneka bunga yang berjatuhan dan berterbangan di musim gugur dengan ringannya tanpa meninggalkan beban sedikitpun pada sang “syajarah”.
Jangan sekali-kali berani meninggalkan sholat karena disitulah kekosistensian kita teruji dan terbukti dihadapan-Nya serta mahluk-Nya.
Dua bola mata ini , masih focus pada sekumpulan anak2 sekolah kira2 setingkat SMU di dalam bis Damri jurusan Cicaheum-LW. Panjang.
Selang beberapa menit mata ini terus memandang selagi menerawang dalam ingatan bawah sadar tentang apa yang sedang dilihat kedua mata ini. Aku teringat kembali dengan shohib-shohibku dipesantrenku yang ku gali ilmunya selama kurang lebih 1000 hari aku menghirup udara disana.
Bahrul Ulum KH.Busthomi adalah nama pondok pesantrennya, aku teringat ketika raga, hati, jiwa, dan seluruh anatomi kepribadianku berbaur dengan temperature yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Dag..dig…dug…!!! begitulah kira-kira suara dentuman jantungku di bilik sebelah kanan kurasakan dentumannya begitu kencang layaknya bom nuklir yang jatuh dikota Hirosima Jepang 1944 oleh America Serikat.Kenapa ini….? Sepertinya aku menjadi diri sosok yang lain, bukan diriku yang sebelumnya.
Kududuk dikursi panjang kurang lebih ukurannya tiga orang dewasa jika mendudukinya, sesosok wajah dengan penuh aura surga menyapaku dengan pandangan sayup sejuknya. Sepertinya beliau berbeda dengan orang-orang asing yang telah kulihat tadi.
Akhirnya perbincangan antara kedua orang tuaku yang selalu menyayangi dan menjagaku dengan penuh kasih sayang serta tulus ikhlas dalam mendidik dan menyiami aku layaknya tumbuhan yang baru menampakkan pucuknya, dengan seorang yang sejuk bila kupandang paras dan lekuk perilakunya yang lembut lagi halus. Ternyata ia adalah Pipimpinan Pondok Pesantren yang akan aku diami selama tiga tahun kedepan nanti.
Perbincangan selama kurun waktu serempat jam itu berakhir dengan mushofahah yang begitu akrab dan hangat kurasa.
Setelah kami menghadap Rabby yang telah memberikan nikmat akan indahnya menatap mahluk ciptaan-Nya, mengecap segala rasa yang Ia hiaskan sebagai mahkota
dunia. Alhamdulillahi robbil ‘alamin,kuucapkan kala waktu asar memandangku dengan sedikit malu-malu memancarkan meganya. Aku berpisah dari kedua mentari dan rembulanku, tetesan air mata tak terasa mengalir dengan derasnya dari muara ketabahanku, aku tak mampu membendung semua kesedihanku ditinggal kedua orang tua yang teramat aku cintai.
“Jaga diri baik-baik dan rajinlah mengaji” itulah kata-kata penunjuk arahku yang terakhir mereka katakan.
Aduh….!!! Kepalaku terbentur kaca bis, astagfirullahal’azim ternyata aku sudah setengah jam membuka album imajinasiku. Tak kulihat lagi anak-anak SMU yang sedang ramainya berceloteh, Alhamdulillah sampai juga di teminal LW. Panjang…….
Afwan jiddan k-lo intermezzonya kelewat panjang, ismi Ahmad Mabrur Nur Hakim bin Halim bin Sofyan bin Saca bin Barata. Nama qolam “aboey al-khauf”, kediamanku di jln terusan kopo no.492 A Kab. Bandung.
Yang selalu aku lakukan adalah merenungi kesalahan apa yang telah aku perbuat dalam satu hari, afwan jiddan aidhon jika aku sensitive dan selektif dalam mengenal kepribadian seseorang. Kamis, 31 Bulan Mei 1990 adalah awal peperanganku dengan iblis la’natullah ‘alaih dalam menegakkan keimanan dalam qalbu yang teramat lemah tanpa pertolongan-Nya.
Kenangan yang paling indah, pedih, peri, dan aku syukuri atas nikmat-Nya
Kala kalian para golongan pengibar bendera syahadatain menjadi Semayup Senja di Musim Gugur-ku
Pesanku jadilah semayup yang menyejukkan hati yang melihatnya, jadilah senja yang memberikan rasa teduh bagi para musafir yang berjalan ditengah teriknya sinar mentari untuk mencari ridho-Nya, jadilah dedaunan dan aneka bunga yang berjatuhan dan berterbangan di musim gugur dengan ringannya tanpa meninggalkan beban sedikitpun pada sang “syajarah”.
Jangan sekali-kali berani meninggalkan sholat karena disitulah kekosistensian kita teruji dan terbukti dihadapan-Nya serta mahluk-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar